Agama VS Sains
Januari 25, 2009
oleh pangeran cinta 03 ( sufi )
NB: tulisan ini pindahan dari komentar di jiai
Sejak abad ke-17 hubungan sains dan agama mengalami ketegangan yang tak kunjung henti hingga kini. pendekatan dialog harus terus diupayakan, kesamaan maupun perbedaany.
Di Barat, relasi agama dan sains menjadi isu yang kontroversial. Uniknya, hal tersebut juga berimbas ke lingkungan akademisi dua agama, yakni Islam dan Kristen. Dalam sejarah tradisi intelektual Islam ataupun Kristen sejak periode awal hingga Abad Pertengahan, wacana hubungan agama dan sains cukup pesat dan mampu menghidupkan dimensi intelektual bidang keagamaan. Jadi, relasi antara agama dan sains bukanlah isu baru.
Dalam buku Melacak Jejak Tuhan dalam Sains (2004), Mehdi Golshani berpendapat bahwa sains dan Islam bukan isu baru. Keduanya, kata Mehdi, sama-sama memiliki dasar metafisika dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan ataupun pengetahuan yang diupayakan, ialah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Singkat kata, kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama (”ilmu amaliah” dan “amal ilmiah”).
Namun, hal penting yang perlu digarisbawahi: kegiatan ilmiah atau sains harus tetap memiliki metodologi dan bahasa sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menggeser anggapan “agama vs sains” dengan menyadari bahwa ada keterbatasan sains oleh para ilmuwan, dan karena campur tangan yang tak semestinya terjadi dari para otoritas agama dalam persoalan saintifik. Dengan begitu, relasi agama dan sains tetap dibutuhkan dan dianggap penting oleh umat manusia.
Jika pertimbangan itu dipakai, maka sains justru bisa memperkuat iman kepada Tuhan. Ada empat hal yang dapat membawa sains kepada agama (Tuhan). Pertama, sains memperkenalkan kita dengan sifat beberapa dimensi alam semesta dan bukan keseluruhan. Kedua, sains tak bisa menjawab pertanyaan ultimat: dari mana datangnya alam semesta? Ketiga, sains membutuhkan kerangka metafisik yang bisa menjustifikasi keberhasilannya. Keempat, sains itu empirik.
Dalam konteks Islam, para sarjana Muslim harus tetap menekankan bahwa motivasi utama di balik upaya pencarian ilmu-ilmu sains ialah guna mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta (baca: ayat kauniah). Itu berarti, setiap bidang ilmu akan menunjukkan satu dimensi ciptaan-Nya. Jika begitu, mungkin saatnya kita akhiri perdebatan “agama vs sains” di sini. Bagaimanapun, posisi agama dan sains tetap sama, keduanya tetap penting dan bermakna.
Yang jelas, agama dan sains berevolusi.
Agama berevolusi dari yang paling sederhana hingga yang paling lunggit atau
tinggi sekali. Sehingga, tauhid yang mula-mula amat sederhana, tapi untuk
memraktikkannya terus-menerus berubah. Dari pola Nabi Ibrahim yang sederhana
yang shuhufnya sudah tidak kita kenali lagi hingga tauhid Alquran yang penuh
metafor.
Sains pun terus-menerus berevolusi. Dilihat dari sejarah, sains pada zaman
keemasan Islam belum bisa dikatakan sebagai sains seperti di zaman modern,
lantaran sains di zaman modern merupakan kajian objektif terhadap fenomena dan
harus bisa diverifikasi kebenarannya oleh pihak lain.
Sains ya sains, tak ada sains sekuler atau sain agamis. Sekuler atau agamis
hanyalah cara pandang terhadap kerja dan hasil kerja sains. Jadi, patokan dalam
sains ya:
(1) objek yang diteliti terukur.
(2) kaitan-kaitan objek yang diteliti harus dapat dilihat dengan jelas.
(3) runtutan pengamatan dan berpikir metodis harus tertata rapi.
(4) kebenaran hasilnya harus dapat diverifikasi pihak lain.
Jadi, sains tidak berurusan secara langsung dengan realitas atau nomena, tapi
berkaitan dengan fakta-fakta. Urusan realitas akan dikaji lebih dalam di dunia
FILSAFAT.
Jadi, berdasarkan sains –misalnya babi– kita hanya mengkaji apakah daging
babi layak dikonsumsi manusia atau tidak, dan tidak berurusan dengan haram atau
halal kalau dimakan.
Dus, SCIENCE is SCIENCE, AGAMA adalah AGAMA.
Masing-masing berdiri sendiri, tapi juga bisa saling mempengaruhi!
Salam, hangat
untuk teman2 & adek2 JIAI 2007-2004
Entry Filed under: Tak Berkategori. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed